Contoh Bisnis yang Dimulai Tanpa Sengaja

By | 31 July 2012

Contoh Bisnis yang Dimulai Tanpa Sengaja - Peluang Usaha UnikAda bebrapa hal yang biasanya kebetulan, contih saja seperti Mislam. Awalnya Warga Kebumen Jawa Tengah ini mau mengikuti studi banding usaha batu, di tengah perjalanan ban mobilnya bocor. Inspirasi berkreasi menekuni bisnis bambu tiba-tiba muncul. Inspirasi itu muncul dikarena perbaikan ban bocor yang cukup lama, para penumpang diminta turun. Teman-temannya mampir ke penjual durian, namun Mislam malah mendekati penjual kerajinan bambu di pinggir jalan.

Kejadian itu terjadi 2003 lalu, ban mobil bocor di perbatasan Magelang-Purworejo. Mislam dan sejumlah relawan lembaga internasional saat bertandang ke Magelang untuk belajar usaha batu. Saat mampir ke penjual kerajinan bambu, Mislam bertanya banyak hal. Ia tak segan-segan meminta kartu nama sang perajin. Seminggu kemudian, ia meminta perajin mengizinkan karyawannya datang memberi pelatihan. Namun nego tidak berhasil, Mislam meminta bantuan lembaga tersebut untuk menggelar pelatihan kerajinan bambu.

Rencananya ternyata tidak mulus. Mislam yang kebetulan menjadi panitia acara, tak sempat menyimak. Namun karena ingin sekali menekuni usaha tersebut, guru atau mentor pelatihan diundangnya ke rumah, dan bahkan dipekerjakan selama dua tahun, hasilnya ia mulai mengerti. Demi mempraktikkan ilmunya, Mislam meminta sejumlah bambu kepada tetangganya. Ia mencoba membuat kursi, hanya untuk latihan. Kursi itu ditaruh di depan rumah, namun tak disangka ada orang yang tertarik. Orang itu menanyakan harga dan butuh berapa lama untuk membuah satu set.

Waktu itu tidak mungkin mengerjakannya sendiri, Mislam kemudian mengumpulkan beberapa orang yang pernah ikut pelatihan. Untungnya, mereka mau dan alat-alat sisa pelatihan bisa digunakan. Secara geografis, rumah Mislam tergolong strategis. Dekat dengan Bendungan Wadaslintang. Banyak orang lalu lalang, baik wisata maupun memancing. Hasilnya kreasi bambunya sering dilihat. Sebagian mampir untuk bertanya, sebagian langsung memesan.

Mislam terus mengasah kemampuan mengolah bambu. Ia mendatangkan mantan mentornya. Dua mantan mentornya dipekerjakan. Setelah benar-benar merasa mahir, Mislam semakin percaya diri berkreasi. Ia lama kelamaan kerepotan menghadapi tingginya pesanan, sehingga terpaksa mencari orang untuk membantunya. Usaha kecil-kecilan itu dikerjakan di samping rumah. Mislam melabeli terasnya dengan spanduk ‘Pengrajin Bambu Margo Wulung’. Harapannya, orang yang lalu lalang ke Wadaslintang mampir dan tentu saja, langsung memesan. Harga produk kursi bambunya rata-rata Rp 500.000 per set.

Bahan berupa bambu wulung didapatkan dari daerah sekitar. Belakangan ini, ia mengambil dari Wonosobo. Khusus untuk ukiran pada sandaran maupun meja yang dulu didapatkan dengan cara membeli, kini dibuat sendiri. Ada gambar bunga, burung, wayang. Kreasi Mislam tersebar ke berbagai daerah. Berkat bisnis rumahan itu, Mislam bisa menghidupi keluarga dan sedikit terkenal.